Day 6 – I Hate Rain

Hujan...

Ya, gw benci hujan.

Hujan membuat gw gak bisa kemana-mana. Hujan membuat gw terperangkap di tempat gw berada. Hujan membuat semua rencana gw berantakan. Ya, hujan memang membuat semuanya menjadi tidak asik lagi.

Oleh karenanya, gw merasa payung, jas hujan, dan mobil adalah benda terdahsyat yang bisa gw miliki. Alasannya simpel : Benda-benda itu bisa membuat gw mempunyai sedikit kekuasaan terhadap hujan yang gw benci.

Belum lagi, terkadang hujan membawa banjir. Kalau sudah begitu, gw pasti akan menyalahkan hujan. Kenapa? Kenapa hujan harus turun sebegitu derasnya?

Mungkin saja ini cuma gw yang merasakan. Atau selain gw hanya orang-orang kota saja yang memang sudah tidak membutuhkan hujan dalam hidupnya.

Gw tahu kalau di daerah lain, orang-orang benar-benar memerlukan hujan. Gw sadar kalau di tempat lain orang bahkan rela membunuh demi hujan. Gw juga merasa kalau di bagian lain dari negara ini akan sangat menderita tanpa hujan.

Tapi tetap saja. Gw. Benci. Hujan.

Day 5 – Disappearance

Akhirnya gw selesai seminar tugas akhir juga!

Bersamaan dengan ini tinggal satu langkah yang harus gw lalui untuk wisuda, yaitu sidang maret nanti.

Ada satu hal yang gw sesalkan hari ini, hal itu adalah saking tegangnya gw saat akan seminar, gw lupa minta tolong teman untuk mengabadikan performa gw saat seminar dengan Vanixus. Oh well, masih ada sidang nanti. Semoga tidak lupa.

Nah tadi setelah seminar beres ada sedikit kejadian. Jadi gw kembali ke parkiran motor untuk pulang ke rumah. Namun sesampainya di sana, gw cuma bisa celingukan. Motor gw gak ada di tempatnya!

Mulai panik, gw mondar-mandir di satu baris tempat tadi gw menaruh motor, berharap gw hanya lupa naruh. Satu keliling dua keliling, motor gw belum menampakkan wujudnya. Gw pun mencoba mencari di baris-baris sebelahnya. Sehabis beberapa putaran celingak-celinguk, gw cuma bisa garuk-garuk kepala. Motor gw hilang. Uh-oh.

Tak lama kemudian muncul seorang tukang parkir sambil terkikik-kikik. “Motornya yang BH ya? Itu di sana. Makanya kalo parkir yang betul” katanya.

Benar yang dia bilang, sosok motor kesayangan gw terlihat begitu indah sekitar 20 meteran dari tempat gw berdiri. Gw menghela nafas lega. Untung saja, kalo motor hilang, bisa berabe gw.

Sampai akhirnya gw sadar sebuah fakta penting yang terlupakan. Bagaimana coba cara tukang parkir itu memindahkan motor gw yang terkunci setang, di parkiran yang sangat padat itu, sejauh sekitar 30 meter dari tempat awal gw parkir? Gw cuma bisa menatap sang tukang parkir dengan pelototan tidak percaya. Dan dia membalas tatapan gw itu dengan sebuah senyuman licik, seakan berkata “I know what you don’t”.

Sepertinya kasus ini perlu masuk ke X-Files.

Day 4 – Macabre

Selama ini gw selalu menganggap film horor Indonesia itu sampah.

Bahkan mereka perlu menambahkan kontroversi hanya untuk menaikkan pamornya sedikit, yang sebenarnya sama sekali tidak mengurangi kesampahan dari film itu.

Tapi hari ini anggapan gw terbukti salah.

Ternyata ada film horor Indonesia yang punya gigi. Film ini tidak cuma mengandalkan sound effect untuk mengagetkan. Film ini bisa membangun tensi dengan baik, membuat penonton terbawa kengeriannya tanpa perlu terkaget-kaget.

Ya, yang gw bicarakan sekarang adalah Rumah Dara.

Atau "Macabre" untuk judul internasionalnya.

Continue reading

Day 3 – Kite Kid

Kite Kid (\ˈkīt ˈkid\), diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia adalah “anak layangan” atau bisa juga disingkat menjadi sebuah istilah “alay”

Pada masyarakat Indonesia, istilah “alay” telah berkembang menjadi perlambangan kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik tertentu. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan kunjungi thread ini.

Nah hari ini gw sekonyong-konyong diajak sama temen sekosan gw untuk jalan ke sebuah bazaar dan pasar malam di Gegerkalong.

Saat dia mengajak gw, yang terbayang di benak gw adalah : alay, baju murah(an), jaket murah(an), sandal murah(an), mi bakso, dan bianglala. Maklum gw besar di lingkungan yang rada kampung, makanya bayangan gw tentang pasar malam cuma mentok sampai di situ.

Gw pun meminta konfirmasi, apakah pasar malam  itu sama seperti pasar malam dalam bayangan gw. Kalo iya, malas dong. Ngapain juga gw jauh-jauh ke Gerlong untuk window shopping barang-barang murah(an) yang gak mungkin gw beli.

Temen gw itu menyebut nama teman lain (sebut saja F) yang mengajak dia kesana. Dan menurut dia si F ini jauh dari kesan alay, sehingga tidak mungkin pasar malam ini alay.

Merasa diyakinkan, gw ikut saja mengendarai motor dingin-dingin ke Gerlong. Dan sesampainya di sana…. Continue reading

Day 2 – Presenting Vanixus

Lights, Camera, Action!

Ya, gw sudah punya kamera!

Sesuai rekomendasi beberapa teman gw, gw akhirnya membeli kamera Canon Ixus 95 SI di BEC. Bersamaan dengan itu, gw juga membereskan masalah di hape gw, membuat gw sekarang bisa dihubungi kembali.

Awalnya gw mau menyertakan foto dari kamera gw dengan kamera baru, sampe gw sadar kalo hal itu rada mustahil. Gw pun hanya bisa memotret kotaknya saja. Inilah dia!

My new Vanixus!

Btw, kamera ini gw beri nama Vanixus :p

Lalu setelah gw tidak menggunakan sepatu murahan lagi, kaki gw bebas dari lecet meskipun sudah berjalan lama. Meskipun pegal-pegal bekas sepatu lama masih terasa. Sekarang sedang gw coba mengoleskan Counterpain untuk mengurangi kepegalannya.

Dengan ini gw juga merekomendasikan jikalau kalian mau travelling cukup jauh, pilihlah alas kaki yang nyaman dan sesuai dengan medan. Soalnya, alas kaki yang tidak cocok ngga cuma sakit di kaki, tapi juga menghancurkan rasa senang berpetualang.

Kalo tidak percaya, coba saja sendiri :D

Day 1 – Wrong Shoes

Kalau ada tiga kata yang bisa mewakilkan perjalanan gw hari ini, kata-kata itu adalah : Kaki. Gw. Sakit.

Yep, ternyata gw salah memilih sepatu. Gw hari ini menggunakan sepatu kets murahan yang ternyata baru dipakai jalan 1 km saja sudah bikin kaki super pegal.

Berhubung sudah di tengah jalan, mau gimana lagi, jalan saja terus. Hasilnya, lecet-lecet parah pas gw sampai rumah. Kalau saja gw paksa jalan 1 km lagi, gw yakin dokter akan memvonis amputasi ke kaki gw.

Sebenernya rencana hari ini adalah, betulin hape dan beli kamera digital untuk merekam momen-momen indah, dan kalo beruntung, momen-momen absurd, yang akan gw temui dalam petualang gw.

Cuma setelah bertanya-tanya ternyata harga sebuah kamera digital di luar ekspektasi gw. Maklum gaptek. Akhirnya gw memutuskan untuk melakukan sedikit riset terlebih dahulu biar gak rugi. Hasil risetnya adalah : besok gw akan membeli Canon Ixus 95 SI.

Semoga saja kualitasnya worth dengan harganya :D

Day 0 – Resolution

Pernahkah kamu tiba-tiba kehilangan tujuan hidup dan merasa perlu melakukan sesuatu agar semangat hidup kembali? Gw sering, dan salah satu dari kemunculan perasaan itu terjadi kemarin.

Pilihan gw tinggal dua, berjuang hidup atau diam dan mati suri.

Gw memilih opsi nomor satu, berjuang hidup. Tanpa pikir panjang, gw menulis sebuah daftar. Daftar hal-hal yang ingin gw lakukan sebelum gw mati. Yang menakjubkan adalah, dari sekian banyak dari isi daftar itu, hampir semuanya memiliki satu arti : petualangan.

Dan sejak detik gw selesai menuliskan isi kepala gw itu, gw memutuskan untuk berpetualang. Setiap hari. Sepanjang gw bisa. No excuses.

Mulai hari ini, gw akan menikmati hidup. Gw akan melihat dan merasakan berbagai hal-hal yang belum pernah gw lihat dan rasakan sebelumnya. Gw akan berpetualang.

Untuk memantapkan keputusan gw, gw membuat blog ini dan berniat menjadikan ini seperti travel diary gw.

Yak, selamat menikmati guys!

Hello world!

Selamat Pagi Dunia!

Disini gue akan mencoba menceritakan ulang kisah-kisah yang gue dapat saat berjalan-jalan.

Just wait for it guys :D