Day 3 – Kite Kid

Kite Kid (\ˈkīt ˈkid\), diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia adalah “anak layangan” atau bisa juga disingkat menjadi sebuah istilah “alay”

Pada masyarakat Indonesia, istilah “alay” telah berkembang menjadi perlambangan kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik tertentu. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan kunjungi thread ini.

Nah hari ini gw sekonyong-konyong diajak sama temen sekosan gw untuk jalan ke sebuah bazaar dan pasar malam di Gegerkalong.

Saat dia mengajak gw, yang terbayang di benak gw adalah : alay, baju murah(an), jaket murah(an), sandal murah(an), mi bakso, dan bianglala. Maklum gw besar di lingkungan yang rada kampung, makanya bayangan gw tentang pasar malam cuma mentok sampai di situ.

Gw pun meminta konfirmasi, apakah pasar malam  itu sama seperti pasar malam dalam bayangan gw. Kalo iya, malas dong. Ngapain juga gw jauh-jauh ke Gerlong untuk window shopping barang-barang murah(an) yang gak mungkin gw beli.

Temen gw itu menyebut nama teman lain (sebut saja F) yang mengajak dia kesana. Dan menurut dia si F ini jauh dari kesan alay, sehingga tidak mungkin pasar malam ini alay.

Merasa diyakinkan, gw ikut saja mengendarai motor dingin-dingin ke Gerlong. Dan sesampainya di sana….

Bazzar o__O

Ya ampun, nulis Bazaar saja salah. Firasat buruk gw terbukti betul. Pasar malam itu benar-benar sesuai bayangan gw tadi : alay, baju murah(an), jaket murah(an), sandal murah(an), mi bakso, dan bianglala. Dan ditambah “becek”. Entah kenapa kata kunci terakhir ini gak muncul di bayangan pertama gw, padahal menurut pengalaman gw pasar malam kayak gini pasti, ya, pasti becek.

Oh well, berhubung gw sudah terdampar di tempat alay, ya udah sekalian saja nyemplung dan bersenang-senang. Tentu saja dengan alay style!

Di situ gw foto-foto dengan gaya alay, makan kerak telor, dan naik carousel (apa ya bahasa indonya, gw lupa) buat anak kecil, sampai dipandang kasihan sama alay-alay lain. Pokoknya gw malah jadi merasa lebih alay daripada semua alay di sekitar gw.


Ah sudahlah, yang penting gw dan teman-teman gw bener-bener having fun di situ, terutama dengan kenyataan bahwa 3 teman lain gw BELUM PERNAH ke pasar malam kayak gitu, BELUM PERNAH naik wahana macam itu, dan BELUM PERNAH makan kerak telor. Sungguh kasihan mereka.

Dan sejak saat itu, gw dan teman-teman gw pun yakin kalo si F ternyata adalah seorang alay.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s